Anak-anak Allah Vs anak-anak perempuan manusia (Kejadian 6:1-8)

Kejadian 6:1-8 (TB)  Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan,
maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.
Berfirmanlah TUHAN: “Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja.”
Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan.
Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,
maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.
Berfirmanlah TUHAN: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.”
Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.

Para ahli mengakui bahwa perikop ini sangat sulit ditafsirkan. Masalah utamanya adalah mengenai siapa sesungguhnya “anak-anak Allah” . Ada beberapa pandangan mengenai hal ini:

1. Teori mengatakan bahwa “anak-anak Allah” itu adalah malaikat adalah penafsiran yang sudah sejak dahulu. Penafsiran ini didasarkan pada Ayub 1:6 dan Ayub 38:7. Namun hal ini tidak dapat diterima, karena Yesus sendiri mengatakan bahwa malaikat tidak menikah (Matius 22:30)

2. Ada pula yang berpendapat bahwa anak-anak Allah itu adalah para penguasa. Pandangan ini didasarkan pada pengertian Targum yang mengatakan bahwa elohim (Allah atau para Allah) adalah para penguasa dan para hakim (Mazmur 82:1,6). Menurut pandangan ini  “anak-anak Allah” (elohim) adalah anak para penguasa dan para bangsawan. Ini dikuatkan pula oleh keyakinan di Timur Tengah pada zaman dahulu bahwa para raja itu adalah ilahi. Pandangan ini pada umumnua ditolak, karena walaupun dikatakan bahwa terkadang penguasa itu disebut “allah”, namun tidak pernah dalam bentuk jamak sebagaimana halnya dengan frase “anak-anak Allah”.

3. Yang lain mengatakan bahwa mereka adalah para penguasa yang dikuasai oleh mahluk-mahluk malaikat. Pandangan ini merupakan kombinasi kedua pandangan di atas. Penganjur pandangan ini mengatakan bahwa pada masa dahulu para penguasa dunia ini tidam jarang dikuasai oleh roh-roh jahat. Roh-roh jahat itu berada di balik para penguasa itu (band. Daniel 10:13; Efesus 6:12). Dengan perkawinan antara penguasa yang dikuasai dan dikendalikan oleh roh-roh jahat dengan anak perempuan manusia, maka keturunannya  membawa manusia ke dalam suatu keadaan kejahatan yang amat hebat dan terbukalah mereka kepada penguasaan oleh setan-setan dan roh-roh jahat.

4. Namun demikian penafsiran tradisional yang mengatakan bahwa anak-anak Allah itu adalah keturunan Set yang saleh (Ulangan 14:1; 32:5) masih merupakan penafsiran yang paling umum diterima. Dalam pandangan ini “anak-anak perempuan manisia” berarti wanita yang tidak saleh dari keturunan Kain. Mereka ini saling mengawini dan persatuan yang saleh dengan yang tidak saleh ini menghasilkan kejahatan (Kejadian 6:5) yang berakibat pada tercemarnya bumi dan dipenuhi dengan kejahatan (Kejadian 6:11-13).

Konsep mengenai pemisahan dari yang jahat ini adalah dasar dalam hubungan Allah dengan umatNya. Menurut Alkitab, pemisahan itu meliputi dua dimensi:
     (a) Memisahkan diri secara moral dan rohani dari dosa dan dari segala sesuatu yang bertentangan dengan Yesus Kristus, kebenaran dan Firman Allah.
      (b) Mendekatkan diri kepada Allah dalam suatu persekutuan yang akrab dan intim melalui penyerahan diri, penyembahan dan pelayanan.
      Pemisahan dalam pengertian ganda ini menghasilkan suatu hubungan dimana Allah menjadi Bapa Sorgawi kita yang hidup bersama kita sebagai Allah kita dan sebaliknya kita menjadi anak-anakNya laki-laki dan perempuan ( 2 Korintus 6:16-18)

Dalam PL, pemisahan merupakan suatu tuntutan Allah yang terus menerus bagi umatNya. Allah memerintahkan umatNya untuk tidak menerima agama-agama atau meniru kebiasaan moral dari bangsa-bangsa di sekitar mereka.

Hubungan yang intim dengan orang dunia pada akhirnya akan menghancurkan pemisahan dan kekudusan umat Allah. Masalah-masalah seperti pernikahan campuran dari umat Allah dengan orang tidak percaya atau persahabata  akrab dengan mereka dapat
Menyebabkan orang percaya berbalik dari mengikut Allah (Ulangan 7:4). Satu alasan penting yang menyebabkan Allah menghukum umatNya dengan membuang mereka  ke Asyur dan Babel ialah karena mereka bersikeras ingin menyesuaikan diri dengan penyembahan berhala dan gaya hidup yang fasik dari bangsa-bangsa di sekitar mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: