SUMBER KEKACAUAN DAN KEJAHATAN (Yakobus 3: 16)

Dalam kehidupan ini dan interaksi dengan sesama manusia, baik di dalam kantor,  di dalam keluarga, di dalam organisasi, atau di dalam gereja, gesekan-gesekan dan perbedaan-perbedaan di antara manusia tidak dapat dihindari. Namun demikian, seringkali yang menimbulkan kekacauan dan kejahatan bukanlah karena perbedaan-perbedaan seperti budaya, tradisi, bahasa, atau tingkat sosial, sekalipun hal-hal tadi  bisa saja menjadi picu kekacauan.
Akan tetapi, kekacauan dan kejahatan seringkali terjadi karena hal-hal yang ada di dalam diri manusia yang tidak dapat dikendalikan. Sesuatu yang di luar adalah ekspresi dari apa yang ada di dalam diri manusia. Ada 2 hal utama yang seringkali menimbulkan kekacauan dan kejahatan.
Pertama, iri hati. Mengapa iri hati dapat menimbulkan kekacauan dan kejahatan? Karena iri hati adalah sikap hati yang merasa kurang senang melihat kelebihan atau keberhasilan orang lain. Itulah sebabnya iri hati akan menghancurkan kehidupan orang lain, sekalipun saudara kandung atau saudara seiman sendiri (Kis. 7: 9).

Iri hati akan membuat manusia berani menyebarkan firnah atau berita bohong dan menghancurkan masa depan orang seperti yang dilakukan oleh saudara-saudara Yusuf (Kej. 37: 11; 38: 18-28, 31-33). Itulah sebabnya iri hati dapat menimbulkan kekacauan dan kejahatan.

Selain itu iri hati juga dapat menimbulkan penghujatan dan perbantahan atas kebenaran dari Tuhan (Kis. 13: 45). Orang yang iri hati akan sulit menerima kebenaran karena memang di dalam diri orang ini tidak ada kebenaran. Tidak adanya kebenaran di dalam diri orang yang iri hati akan mendorongnya bertindak jahat dan  menimbulkan kekacauan.

Kedua, mementingkan diri sendiri. Orang yang mementingkan diri sendiri adalah orang yang menjadukan dirinya sebagai pusat dan tidak tidak mempedulikan orang lain. Ia lebih mengutamakan kepentingan dan perasaannya sendiri.  Itulah sebabnya ia tidak akan segan-segan berbuat hal-hal yang jahat, misalnya mengorbankan sahabat, saudara kandung atau saudara seiman.
Orang yang mementingkan dirinya sendiri biasanya juga tidak dapat bekerjasama dengan orang lain sebagai tim di dalam sebuah tugas atau misi. Ia tidak peduli dengan apa yang akan dikerjakan tim. Ia lebih mementingkan diri sendiri. Itulah sebabnya pekerjaan menjadi terbengkalai, kacau, dan banyak masalah.

Oleh karena itu, marilah kita menjauhkan diri dari sikap iri hati dan mementingkan diri sendiri, supaya dapat terhindar dari kekacauan dan kejahatan.

-Ps. Leonardo A.Sjiamsuri-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: