Sejumlah Pandangan yang Berkembang Mengenai Kristologi

imageskristusSejak abad kedua hingga abad kesembilan belas, doktrin Kristologi terus-menerus diwarnai dengan rangkaian perdebatan serta polemic doctrinal, baik yang muncul dari kalangan bidat atau kelompok liberalism, maupun terjadi di dalam lingkungan kekristenan sendiri. Pokok esensial yang menjadi pusat perdebatan dan permasalahan kristologi pada dasarnya menyangkut sejumlah aspek krusial dalam doktrin kristologi, antara lain: Pertama, mengenai keilahian dan kemanusiaan Kristus: Benarkah Yesus adalah Allah sejati dan manusia sejati? Kedua, tentang sifat dan kepribadian Kristus: Apakah Yesus memiliki sifat dan pribadi ganda atau hanya mempunyai sifat dan pribadi tunggal? Ketiga, menyangkut eksistensi dan ke-Allahan Kristus: Sejak kapan Kristus ada dan menjadi Allah? Pernahkah Yesus bukan Allah?

Pokok-pokok permasalahan tersebut cenderung diperdebatkan oleh sejumlah paham atau pandangan selama berabad-abad. Adapun pandangan-pandangan yang berkembang mengenai Kristologi adalah sebagai berikut:

1. Monarkianisme

Pada zaman bapa-bapa gereja terdapat pandangan kristologi yang menekankan kepada kesatuan dan ketunggalan Kristus, bukan pada kepribadianNya. Sebagai pencipta Yesus memiliki unsur ilahi yang menyatakan penampakan Allah yang tunggal di dalam diri Yesus. Paham ini sebara praktis tampil melalui dua jenis pandangan yang masing-masing menekankan aspek kristologi yang sedikit berbeda satu sama lain:

  • Monarkianisme Dinamis: Dicetuskan pertama kali di Roma pada tahun 190 oleh Theodotus dari Byzantium, kemudian dilanjutkan oleh pengikutnya yang bernama Artemon yang juga disebut Theodotus. Pandangan ini dikenal juga dengan paham adopsionistik yang mengajarkan bahwa Yesus sesungguhnya hanya menusia biasa yang berm0ral tinggi. Ia diangkat atau menjadi ilahi karena kuasa dan urapan Roh Kudus atas diri-Nya. Dasar teologinya adalah menganggap bahwa istilah Theos artinya Allah hanya berlaku untuk Bapa sendiri. Sedangkan Anak, yaitu Yesus tidak layak disebut dengan istilah itu, karena ia hanya sebagai manusia biasa.
  • Monarkianisme Modalistik: Pelopor terkenal dari paham ini adalah Praxeas (210). Ia mengajarkan bahwa seluruh ke-Allahan Allah ada di dalam Kristus. Kelompok ini menyimpulkan bahwa Allah memiliki pribadi tunggal, yaitu Kristus yang mnyatakan diri dalam tiga penampakan, yaitu melalui Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Kaum modalistik berpendapat bahwa Allah memanifestasikan diriNya ke dalam model atau bentuk yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Ajaran ini mengilustrasikan konsep Allah bagaikan air yang dapat memanifestasikan substansinya dalam tiga wujud, antara lain: Uap, cair, dan gas.
2. Sabelianisme

Ajaran ini berkembang pada abad ketiga ini dicetuskan oleh Sabelius di Roma (ia dikenal sebagai pengajar doktrin Trinitas di Roma pada abad ketiga). Sabelius mengajarkan bahwa Allah hanya memiliki satu pribadi, namun ia menyatakan diri melalui peran yang berbeda. Sehubungan dengan pemberian Hukum Taurat dalam Perjanjian Lama, maka Allah menyatakan diri sebagai Bapa Kemudian  dalam hubunganNya peristiwa inkarnasi, Ia menyatakan diri sebagai Anak, sedangkan melalui karya pengudusan, maka Allah menyatakan diri sebagai Roh Kudus.

3. Triteisme

Paham ini secara terang-terangan mengajarkan bahwa, formulasi tritunggal ialah satu tambah satu tambah satu adalah tiga. Dengan demikian, doktrin Allah Tritunggal sesungguhnya harus menyatakan tentang adanya tiga Allah yang berbeda, yaitu Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Inilah bentuk Politheisme yang ditolak secara tegas oleh gereja pada waktu itu. Pada prinsipnya pandangan ini menekankan bahwa Kristus bukan hanya satu pribadi, melainkan salah satu Allah dari tiga Allah yang berbeda. Kekeliruan ini sudah sangat jelas bertentangan dengan ajaran Alkitab.

4. Subordinasionisme

Adalah ajaran yang berkembang pada era bapa-bapa gereja. Paham ini merumuskan konsep Allah Tritunggal dengan cara menempatkan ketiga pribadi Allah Tritunggal ke dalam sebuah strata hirarki tertentu. Kelompok ini mengajarkan bahwa Pribadi tertinggi dalam Allah tritunggal adalah Allah Bapa, sesudah itu Pribadi Anak yang menduduki posisi kedua yang lebih rendah dari Bapa. Sedangkan Roh Kudus adalah pribadi yang paling rendah di antara ketiga pribadi Allah Tritunggal. Konsep ajaran ini terlihat di dalam tulisan Yustin Martir, Origen dan Tertulian. Karena itu ajaran ini juga sangat bertentangan dengan kebenaran Alkitab yang menajarkan bahwa Yesus Kristus adalah Pribadi yang setara dengan Bapa sebagai Allah yang Esa (Fil. 2:6). Demikian juga Roh Kudus adalah Tuhan yang setara dengan Bapa dan Anak (Kej. 1:26; 2 Kor 3:17).

5. Doketisme

Doketisme berasal dari kata Yunani dokeo artinya nampaknya atau kelihatannya. Ajaran ini mengajarkan, bahwa Kristus sesungguhnya tidak memiliki tubuh insani, namun Ia hanya sebagai roh yang menampakkan diiri seperti manusia. Sebab itu eksistensi Kristus sebenernya seperti hantu. Doketisme lahir pada akhir abad pertama dengan berpegang pada pandangan umum, bahwa tubuh Kristus adalah hampa seperti hantu, sedangkan penderitaan dan kematian-Nya hanya dongeng belaka. Jika Yesus menderita, berarti Dia bukan Allah. Sebaliknya jika Dia Allah, tentunya Dia tidak mungkin mengalami penderitaan dan kematian.

6. Ebionitisme

Kelompok ini dikenal dengan paham adopsionisme yang lahir pada abad kedua. Ajaran ini berpendapat bahwa Yesus hanya sebagai anak Yusuf, sebab itu Ia tidak lebih dari manusia yang lain. Maria tidak mengandung Firman, sebab Maria tidak lebih tua dari Firman itu, ia tidak ada sebelum segala zaman.  Karena itu yang dikandung oleh Maria adalah seorang manusia yang sederajat dengan manusia pada umumnya, namun Yesus lebih tinggi dalam segala hal sebagai hasil dari pengurapan Roh Kudus kepadaNya ketika Ia dibaptis.

7. Arianisme

Paham ini dipelopori oleh Arius yang lahir di Alexandria kira-kira 250M. Arius menolak konsep teologi Alexandria, yaitu homoisious (homo: satu ousia: hakekat) artinya Bapa dan Anak sehakekat atau setara. sebaliknya ia berpendapat bahwa hanya BApa sebagai Allah sejati, sedangkan Anak, yaitu Yesus atau Logos dilahirkan dan dicipta oleh Bapa. Arius menyimpulkan bahwa Kristus bukanlah Allah, tetapi ia hanya sebagai manusia biasa yang dapat berdosa. Arius juga mengajarkan bahwa Kristus lebih tinggi kedudukanNya dari manusia, namun Ia tidak setara dengan Allah, karena Dia bukan pribadi yang kekal. Para pengikut Arius terus menentang konsep homousin dan sebaliknya mengajarkan konsep homoiousin, yaitu zat Anak menyerupai zat Bapa. Menurut Arius karena Yesus dilahirkan secara manusia melalui seorang perempuan, maka tentunya Ia memiliki permulaan sejarah hidupNya. Karena doktrin Arianisme dipandang telah menyimpang terlalu jauh dari kebenaran Alkitab, maka bidat ini ditolak dan dikutuk dalam Konsili Nicea pada tahun 325.

8. Apolinarisme

Inti dari pengajaran Apolinarisme, adalah Yesus memiliki satu sifat dan satu pribadi. Paham ini dipelopori oleh anak dari Apolinaris yang juga bernama Apolinaris (Alexandria – 310-390). Karena Yesus lahir sebagai manusia, maka Ia memiliki tubuh, jiwa, dan Roh ilahi, yaitu Logos, namun Roh ilahi itu bukan roh manusia. Roh Logos tersebut yang menguasai tubuh dan jiwa Yesus yang pasif. Karena sifat kemanusiaan Kristus sangay pasif dan lemah, maka lambat laun sifat keilahianNya yang lbih kuat akan menelan sifat kemanusiaanNya yang lemah, sehingga yang dominan di dalam diri Yesus adalah karakter keilahianNya. Menurut pandangan apolinaris, Kristus bukan Allah dan juga bukan manusia namun Ia sekedar oknum ilahi. Tubuh dan jiwaNya adalah tubuh dan jiwa manusia biasa yang berpotensi untuk melakukan dosa, tetapi rohNya bukan roh manusia melainkan Roh Logos. Pandangan tersebut menyalahi hakekat kemanusiaan dan keilahian serta sifat dan kepribadiab Kristus. Kerena itu ajaran ini dikutuk dan ditentang, baik oleh konsili Konstantinopel I pada tahun 381, maupun oleh jemaat saat itu.

9. Nestorianisme

Ajaran ini dipelopori oleh Nestorius (Germanica). Nestorius mengajarkan bahwa Maria adalah Kristotokos, yaitu sebagai bunda Kristus, karena Kristus adalah Allah dan manusia pada saat yang sama. Nestorius merumuskan bahwa dua sifat (sifat Allah dan manusia) dan dua pribadi (pribadi Allah dan manusia) dipersatukan di dalam diri Yesus. Karena itu Kristus memiliki dua sifat dan dua pribadi. Pandangan ini dianggap oleh gereja sangat bertentangan dengan kebenaran Alkitab. Sebab itu Nestorianisme ditolak dalam konsili umum ketiga, yaitu Konsili Efesus yang dipimpin oleh Cyrilus pada tahun 431.

10. Eutyches

 Ajaran ini dicetuskan oleh Eutyches, yang adalah seorang penganut monofisitisme dari Alexandria (378-454) yang dipengaruhi oleh filsafat Aristotelian yang mengajarkan sebuah konsep, yaitu unsur yang kuat menguasai unsur yang lemah. Ia mengajarkan bahwa: karena sifat Allah lebih kuat dari sifat manusia, maka tentunya sifat kemanusiaan Yesus yang lemah tidak bereksistensi karena ditelan oleh sifat ke-AllahanNya yang kuat. Berdasarkan hal itu disimpulkan bahwa Kristus hanya memiliki satu sifat, namun bukan sifat Allah sepenuhnya  dan bukan juga merupakan sifat manusia seutuhnya. Yesus hanya mempunyai satu sifat sebagai hasil perpaduan antara sebagian sifat Allah yang dominan dan sebagian kecil sifat manusia yang tidak sejati. Pandangan yang sumbang tersebut menyebabkan Eutychianisme ditolak dalam konsili Chalsedon pada tahun 451. Tetapi ajaran itu pun sudah ditolak dalam Konsili Konstantinopel III pada tahun 680.

Konsili Chalsedon

Konsili Chalsedon merupakan sebuah konferensi dewan gereja penting yang diadakan pada tahun 451. Konsili  ini juga merumuskan doktrin Kristologi yang benar dan Alkitabiah yang harus diterima dan diyakini oleh gereja atau orang Kristen hingga saat ini. Konsili Chalsedon memutuskan dan menetapkan bahwa , Kristus hanya memiliki satu Pribadi dan dua sifat, yaitu sifat Allah dan sifat manusia, karena Dia adalah Allah sejati dan manusia sejati.

Konsili Chalsedon merupakan konferensi dewan gereja resmi keempat sesudah beberapa konsili sebelumnya (Konsili Nicea 325, Konstantinopel 381, Efesus 431) diadakan untuk membendung kehadiran ajaran-ajaran sesat yang membahayakan iman dan kerohanian jemaat Tuhan. Tiga pokok pemikiran ynag dihasilkan dalam konsili Chalsedon antara lain:

  • Pertama, mensahkan kembali keputusan Konsili Nicea yang menetapkan bahwa Yesus memiliki dua sifat, yaitu sifat Allah dan sifat Manusia serta hanya mempunyai pribadi tunggal.
  • Kedua, menerima argumentasi kristologi Cyrilus dan Leo yang menyebutkan bahwa Maria adalah theotokos, artinya sebagai ibu dari Allah Anak yang berinkarnasi dalam manusia sejati. Kristus yang memiliki sifat Allah dan manusia adalah pribadi kedua dari Allah Tritunggal yang sehakekat dengan Bapa. Sifat kemanusiaan Kristus seperti sifat manusia alami yang dapat merasakan pengalaman manusia pada umumnya, tetapi Ia tidak berbuat dosa (Ibrani 4:15; I Petrus 2:22)
  • Ketiga, merumuskan konsep kristologi yang baku dan Alkitabiah, yaitu menegaskan bahwa kedua sifat Yesus telah menyatu dalam satu pribadi Kristus. Penyatuan kedua sifat tersebut terjadi secara tidak saling melebur atau bercampur, tidak berubah, tidak saling menghilangkan dan tidak terpisah satu sama lainnya.

Sumber: Kristologi Kristen, Dr. Welly Pandensolang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: