Metode Pendekatan Terhadap Agama-Agama Dunia

Slide51. Eksklusisivisme
Eksklusivisme berarti mengeluarkan semua hal (di sekelilingnya) dari dirinya, sesuatu yang sendirinya dalam posisinya, terpisah dari segala sesuatu yang ada di sekelilingnya, atau sering disebut juga suatu kekhususan dibandingkan dengan yang lainnya. Biasanya posisi eksklusivisme dari kekristenan dikalimatkan dengan “tidak ada agama yang menyelematkan dan diterima Allah selain agama Kristen” atau “semua agama yang ada adalah tidak benar dan tidak dapat menyelamatkan manusia di hadapan Allah”.
Karl Barth menganggap agama-agama (termasuk agama Kristen) sebagai ketidakpercayaan ata keprihatinan manusia tanpa Tuhan. Agama Kristen dianggap sebagai agama sejati, bukan karena sesuatu yang intrinsik dari dalam dirinya, tetapi karena Allah telah menciptakan, memilih, membenarkan, dan menguduskannya.
Barth menegaskan prinsipnya, agama-agama itu sendiri adalah suatu usaha yang sia-sia untuk mengenal Allah, hanya melalui wahyu, Allah dapat dikenal dan melalui Yesus Kristus manusia diperdamaikan dengan Allah. Dengan ini pula Barth berusaha menekankan pentingnya pemberitaan Injil untuk memperdamaikan manusia kepada Allah melalui Yesus Kristus yang dikatakannya sebagai kemenangan anugerah.
Posisi ini diwakili oleh Perjanjian Lausanne (Lausanne Covenan), tahun 1974, kemudian dilanjutkan dengan Pernyataan Amsterdam (Amsterdam Statement) tahun 1983. Terakhir, dinyatakan kembali dalam Perjanjian Lausanne II di Manila (1987) yang dikenal dengan Manila Declaration – The Unique Christ in our Pluralistic World – atau deklarasi tentang keunikan Kristus yang eksklusif dalam dunia yang pluralistik ini.
Secara khusus, eksklusivisme yang dipegang oleh Konsili Latheran IV (1215) dan dilanjutkan dengan Konsili Florence (1442), ke-eksklusifan-nya bukan berdasarkan Kristus dan penyataan Allah, tetapi berdasarkan kegerejaan. Pernyataan Konsili Latherannn Extra Ecclesia Nulla Salus atau “di luar gereja tidak ada keselamatan”, yang maksudnya gereja adalah Katolik Roma, terlihat hanya sebagai eksklusivitas yang sektarian.
Gerakan Jansenisme menolak pernyataan Extra Ecclesia Nullam Sanctam atau “di luar gereja tidak ada pengampunan”, tetapi disambut dengan suatu cetusan baru “gereja tidak mungkin salah” lalu “Paus tidak mungkin salah” oleh gereja Roma.
A. G. Honig, dalam bukunya Ilmu Agama mengajukan suatu pendekatan yang disebut “elentik” atau “Konfrontasi”. Kata elentik berasal dari kata Yunanai elencho yang berarti “membantah” atau “meyakinkan tentang kesalahan”. Dalam hal ini kemungkinan besar kesalahan yang dicari-cari untuk dibeberkan adalah dari agama-agama lain.

2. Inklusivisme (sinkritisme)
Inklusivisme adalah keterbukaan yang ekstrim terhadap sesuatu dari luar atau yang berlainan dan mempersilahkan yang berlawanan mendapat bagian dalam dirinya. Konsep ini berarti ada bagian kekristenan yang dibagikan kepada agama-agama lain mendapat keselamatan dari kebenaran Kristus yang ada di dalam kekristenan. Posisi ini bersifat sinkritisme karena toleransi radikal, sehingga sering dikalimatkan dengan pandangan yang “komprmistik”.
• Karl Rahner (bukunya Christianity and Non Christian Religions) mencoba menjelaskan keeklusifan kekristenan sekaligus keuniversalan Kristus dan sifat Allah sebagai suatu paradoks yang menghasilkan pemahaman, “sesungguhnya setiap manusia terbuka terhadap pengaruh rahmat ilahi yang adi-kodrati”.
Rahner membentuk pendiriannya dalam kaitannya dengan keempat tesis berikut: (1) Agama Kristen memahami dirinya sebagai agama mutlak yang ditujukan kepada semua orang dan oleh karena itu tidak boleh mengakui agama lain sama dengan dirinya. (2) Hingga Injil masuk ke dalam sejarah seorang individu, sebuah agama non Kristen dapat mengisi individu yang bersangkutan tidak saja dengan pengetahuan alamiah mengenai Allah, tetapi juga dengan unsur-unsur yang adi-duniawi pemberian sukarela Allah dalam Kristus. (3) Oleh karena itu agama Kristen tidak melulu menghadapi agama lain sebagai agama bukan Kristen belaka melainkan seorang kristen anonim . (4) Gereja tidak akan terlalu menganggap dirinya sebagai komunitas eksklusif, orang-orang yang memiliki keselamatan.
• Raimundo Panikkar mengungkapkan keterbukaan yang sama dalam konteks hubungan dengan agama Hindu di India. Melalui dialog, suatu kebenaran harus diakui oleh kedua pihak agama tersebut, sehingga kebenaran dimiliki oleh kedua belah pihak dengan wadah dan tradisi khusus yang berbeda. Tanpa disadari oleh pemeluk agama non-Kristen, Kristus berada di dalam agama-agama tersebut, sekaligus mengerjakan keselamatan.
• Paul Tillich ingin mendamaikan ketegangan-ketegangan yang biasa ada di dalam suatu agama, yaitu penilaian terhadap agama lain dan penilaian dari agama lain, sambil bermaksud tetap mempertahankan kekhususan kekristenan.
• Leslie Newbegin, adalah seorang Protestan yang tetap dalam mempertahankan keunikan finalitas Kristus sebagai suatu kebenaran dan jalan kepada Allah. Namun sikap ini diperlunak dengan pendekatan inklusifnya
• S.J. Samartha adalah seorang teolog yang dapat dikatakan berposisi inklusif juga. Samartha sangat menekankan pentingnya kekristenan tetapi juga secara bersamaan mementingkan agama-agama lain di dalam hubungannya dengan kekristenan.

3. Pluralisme (Sejalan dengan relativisme)
Posisi ini dapat berarti kebenaran ada banyak dan segala sesuatu adalah benar, meskipun saling berlawanan. Sedangkan yang kedua dapat diartikan segala sesuatu itu benar namun tidak ada kebenaran absolut; semua dapat benar sekaligus atau semua dapat salah pada saat yang sama. Dalam hal ini, kekristenan tidak dapat memakai lagi kekristenannya secara total dan menyamakan diri dengan agama-agama lainnya, karena agama-agama lain juga adalah kebenaran.
• John Hick memulai pandangannya dengan sikap kritis menolak pendekatan kristosentris dan menggantinya dengan Allah sebagai pusat agama-agama lain (Teosentris). Ungkapannya yang cukup terkenal, “apapun jalan yang dipilih manusia adalah jalanku”, menganggap seluruh agama dapat menyelamatkan secara relatif dan mempunyai keabsahannya sendiri dalam menyelamatkan penganutnya.
• Knitter dengan nada sinis mempertanyakan pertanyaan yang menjadi judul dalam bukunya, “Apakah Tidak Ada Nama Lain? Secara keseluruhan Knitter menentang eksklusivisme keselamatan dalam nama Kristus saja dan menganjurkan bahwa setiap agama mempunyai cara tersendiri untuk menyelamatkan pemeluknya.
• Willfried Cantwell Smith menyerukan agar orang kristen mengakui semua orang adalah anak dari Allah, Sang Bapa dan seluruh umat manusia di dunia ini harus dapat disebut sebagai “mutlak kita”.

4. Akomodatif (termasuk possessio)
Arti akomodasi secara umum adalah menyerap aa yang dari luar sambil mempertahankan posisi yang di dalam. Membuka diri terhadap masukan dari luar dan menerimanya, tidak untuk dipakai dalam lingkungannya tetapi dipakai untuk menghibur orang lain atau dipakai untuk keuntungan pribadi sendiri di hadapan orang-orang yang berbeda atau berkeberatan.
• Conn berpendapat bahwa akomodasi berprinsip “Kristus di atas dan di dalam agama. Di mana agama-agama adalah persiapan bagi penginjilan”, semua agama membutuhkan transformasi atau pembaharuan. Prinsip Logos spermatikos adalah cocok untuk pendekatan akomodasi, di mana Loogos sebagai kebenaran telah bekerja dalam hati orang-orang kafir menyatakan kebenaran yang tidak lengkap. Kebenaran yang tidak lengkap tersebut, kemudian mencari kelengkapannya di dalam kebenaran yang diberitakan melalui Injil.
• John Herman Bavinck menekankan pentingnya tugas penginjilan dan pentingnya “memiliki budaya bagi Kristus”. Orang-orang Kristen harus menyadari, bahwa aghama-agama tersebut berharga di mata Allah dan tidak boleh bersikap ekstrim menghina dan merendahkan agama-agama lain. Kekristenan harus mengambil agama-agama non-kristen sebagai miliknya dan membuat mereka baru di dalam kerangka kerja kekristenan itu sendiri, bukan di luar kekristenan atau di dalam agama-agama itu sendiri.
• John Stott mengusulkan suatu pendekatan argumentasi persuasi – Laissez-faire secara umum dapat diartikan “toleransi”.
• Ken Gnanakan memilih posisi pribadinya dalam teologi religionium dalam pendekatan “eksklusif-inklusif”. Suatu pendekatan “jalan tengah” yang tidak berpihak pada titik ekstrimdi salah satu pihak, dengan alasan kedua posisi tersebut sama-sama berdasarkan Alkitab.
• Kenndth Cragg, mengutip pendekatan teosentris sebagai sesuatu yang berguna, tetapi baginyaa tidak cukup dan harus dilanjutkan dengan posisi Kristosentris juga. Ia menganjurkan suatu pendekatan misioner lewat rumah sakit dansekolah-sekolah Kristen untuk penginjilan. Penginjilan baginya bukan untuk penambahan jumlah atau pelebaran geografis kekristenan, melainkan sebagai kewajiban kasih dan pemuliaan Allah. Selain itu keselamatan baginya berarti usaha Allah sendiri dan misi kekristenan.

Imlikasi Bagi Pelayanan Gereja
Implikasi eksklusivisme
Dengan pendekatan ini, gereja dalam pelayanannya tidak ada toleransi sedikitpun. Pendekatan seperti ini dalam masyarakat majemuk dan suasana kebangkitan agama-agamatidak akan membuahkan hasil yang menentramkan, tetapi hanya percekcokan dan kefanatikan yang membabi buta.
Implikasi Inklusivisme
Dalam pendekatan ini eksklusivitas kekristenan memang ditemukan, tetapi tidak dipelihara secara baik sehingga diberikan juga kepada agama-agama lain. Sikap toleransi tanpa harus berkompromi terhadap ajaran agama-agama lain di tengah-tengah masyarakat pluralistik adalah suatu sikap yang baik dan sesuai Alkitab.
Implikasi Pluralistik
Pendekatan ini didasari bukan dari Alkitab lagi, tetapi berdasarkan humaniteranisme dan universalisme sekuler. Dalam pendekatan ini kekristenan tidak hanya terbuka secara emstrim, tetapi juga akibatnya tidak dihargai sama sekali sebagai kekristenan sebenarnya. Tugas penginjilan oleh gereja dapat ditiadakan, sebab penginjilan menjadi tidak perlu dan pelayanan gereja dalam hal menggarami dan menerangi, juga menjadi tidak perlu.
Implikasi akomodasi
Pendekatan ini sangat baik, karena berdasarkan teologi Kristen yang baik dan benar, dalam menghargai agama-agama sebagai yang dipersiapkanAllah, di dalam kerangka pemahaman Logos Spermatikos. Dalam hal ini, pendekatan apologetika menjadi sangat penting bagi perumusan berita injil yang sesuai dengan konteks kebenaran-kebenaran agama-agama setempat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: