Manusia Di Dalam Kebesaran Dan Kesengsaraannya

imagesC43J0MRE

    Pascal berkata,”Jika manusia memuja diri sendiri, akan kurendahkan dia. Jika ia merendahkan dirinya, akan kupuji dia. Ia akan kusangkal, sehinggga tahulah akhirnya bahwa ia adalah suatu mahluk yang mendasyatkan dan yang merupakan teka-teki bagi orang”.

Hal ini megindikasikan bahwa di dalam hidup manusia terdapat dua gejala yang ada di bawah kekuasaan dosa yang menggambarkan kebesaran dan kesengsaraan manusia. Kedua gejala itu adalah:

1. Rasa Malu

Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, maka timbullah rasa malu di dalam hati mereka terhadap Tuhan dan terhadap satu sama lain (Kej 3:7). Rasa malu adalah suatu perasaan badani yang mengingatkan kita kepada keadaan kita yang telah “terkoyak-koyak”. Manusia mencoba menghindarkan diri dari kesalahannya / memakai kedok, tetapi rasa malu itu dengan tidak sadar membongkar kesalahannya. Von Rad berkata, “di dalam rasa malu itu terlekatlah pada tubuh manusia: stigmata-stigmata (bekas-bakas luka) dosa.

2. Suara Hati

a. Etimologi Istilah Suara Hati

Istilah yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk suara hati ialah suneidesis (latin: conscientia) yang berarti: setahu, dengan diketahui oleh. Sedangkan dalam Perjanjian Lama istilah yang dipakai adalah Leb, yang artinya: hati. Istilah lain yang lazim dipakai dalam bahasa Indonesia: bisikan hati, kata hati, rasa hati, suara hati, keinsafan batin. Sebuah istilah yang sangat khas: hati kecil.

Di dalam istilah-istilah itu seolah-olah dikatakan, bahwa di dalam manusia terdapat suatu instansi yang lebih dalam, suatu ‘hati kecil’, yang mengamat-amati dan mempertimbangkan kelakuan kita.

b. Gejala Suara Hati

  • Suara hati      ialah suatu desakan, yang terdapat dalam batin tiap-tiap manusia, untuk menimbang-nimbang kelakuannya.
  • Suara hati      adalah suatu instansi di dalam manusia, yang berada di antara perbuatan dan ‘si aku’ manusia dan yang mengadili kita tanpa menghiraukan, apakah      kita setuju atau tidak.
  • Di dalam      Alkitab, reaksi-reaksi suara hati ini kita jumpai dengan terang para      tokoh-tokoh seperti Kain, Saul, Yudas Iskariot.
  • Di dalam      perpustakaan dunia, reaksi-reaksi suara hati itu lukisannya yang terdalam      terdapat dalam seni drama Yunani dan drama-drama ciptaan Shakespeare.
  • Dalam pikiran      agama-agama primitive, reaksi-reaksi suara hati dijumpai dengan berbagai      cara di dalam bermacam-macam takhyul dan kepercayaan akan hantu.

c. batasan Arti Suara Hati

Di dalam suara hati, dengan tiada berlawanan, manusia berhadapan dan bersoal-jawab dengan dirinya, dan ia menjadi pembuat peraturan, hakim dan pembalas terhadap perbuatannya sendiri.

d. Bagaimanakah Suara Hati Itu Dapat Diterangkan?

Suara hati bukanlah suara allah, tetapi suara hati tidak akan ada bila Allah tidak ada. Dan suara hati tidak akan berbicara jika Allah tidak berfirman. Suara hati itu menjadi suatu tanda yang mengingatkan kita kepada gambar Allah yang telah rusak  dan menjadi suatu gejala pencederaan antara manusia menurut yang seharusnya dan manusia menurut kenyataan yang sebenarnya.

e. Bagaimanakah Caranya Menilai Pertimbangan Suara Hati Itu Berdasarkan Hukum Taurat dan Injil?

  • Sebagai pembuat      hukum: Suara hati tidak dapat dipercaya, karena hukum-hukum yang      ditunjukkan oleh suara hati telah bercacat oleh dosa. Tetapi apabila Allah      menyatakan dira-Nya sebagai Pembuat Hukum kepada kita, maka kehendak Allah      barulah sungguh-sungguh nyata bagi kita dan kita tidak dapat lebih lam      lagi hidup dalam kekelaman larang-larangan suara hati.
  • Sebagai hakim:  Suara hati tidak dapat juga dipercaya,      karena pertimbangan dan keputusan suara hati bukanlah pertimbangan dan      keputusan Allah. Tetapi apabila Allah menjadi Hakim kita, maka kita akan      mengenal Allah yang tidak menghukum kita dan tidak membalaskan kepada      kita.
  • Sebagai      pembalas: suara hati sangat berbahaya, karena tidak mendorong kita kepada      anugerah Allah tetapi kepada ketakutan.

f. Nilai suara Hati Di Dalam Masyarakat

Di dalam hidup manusia berdosa, suara hati itu berdiri sebagai suatu instansi antara manusia dengan perbuatannya. Tanpa suara hati, manusia tidak akan kenal moral dan agama. Tiap-tiap Negara yang benar-benar demokratis, mengakui kemerdekaan suara hati / keinsafan batin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: