Euthanasia_Mercy Killing?_part 1

imagesQ2CKG1K4            Masalah eutanasia tidaklah jauh berbeda dengan aborsi. Jika aborsi merupakan satu tindakan untuk mengakhiri hidup seseorang sebelum ia dilahirkan, maka eutanasia merupakan satu tindakan mengakhiri kehidupan seseorang sebelum waktunya.

            Dalam bukunya “Itukan Boleh?”[1], Dorothy I. Marx Berkata, “Baik eutanasia maupun aborsi berasal dari falsafah dunia yang bersedia menerima baik suatu perbuatan yang bersifat buruk, dengan mengatakan bahwa perbuatan baik itu dapat berubah secara radikal sehingga menjadi baik, disebabkan motivasi dan tujuannya yang baik”.

Istilah Euthanasia

            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia[2], Kata “Eutanasia” diartikan sebagai suatu tindakan mengakhiri dengan sengaja kehidupan mahluk (orang / hewan peliharaan) yang sakit berat / luka parah dengan kematian yang tenang dan mudah atas dasar perikemanusiaan.

Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid V[3], kata “Eutanasia” berasal dari dua kata Yunani, Yaitu Eu: baik dan Thanatos: kematian, berarti tindakan mengakhiri dengan sengaja kehidupan seseorang agar terbebaskan dari kesengsaraan yang diderita. Eutanasia sering kali dilakukan terhadap penderita yang sebenernya sudah tidak mempunyai harapan sembuh. Sering kali penderita masih dapat bertahan hidup (dalam pengertian medis: masih ada denyut jantung dan pernapasan) dengan bantuan bermacam-macam peralatan, namun lama tidak sadarkan diri.

            Menurut para ahli, permintaan eutanasia, sebelumnya hanya dilakukan pada waktu ada di medan-medan peperangan. Karena tidak ada pelayanan medis untuk para prajurit yang terluka, maka untuk mengakhiri penderitaan tersebut seorang temannya mengakhirinya dengan menembak atau menusuk dengan pedang[4]. Namun, sekarang ini artinya berkembang menjadi mercy killing (membunuh dengan alasan belas kasihan).

Pengelompokan Eutanasia

Pada dasarnya, eutanasia dapat dikelompokkan menjadi 2 jenis, yaitu:

  • Eutanasia aktif : Euthanasia dilakukan dengan sengaja oleh dokter untuk memperpendek atau mengakhiri hidup si pasien. Misalnya, dengan menyuntikan obat tertentu sehingga menyebabkan pasien meninggal dunia (tindakan menghasilkan kematian atau pembunuhan)

Orang-orang yang mendukung eutanasia aktif  mengajukan  alasan-alasan sebagai berikut[5].

a)       Eutanasia aktif merupakan sarana yang perlu menjamin suatu kematian yang bermartabat.

b)       Kematian yang bermartabat termasuk di dalam hak Konstitusional Kebebasan Pribadi.

c)       Merupakan satu tindakan kasih kepada orang yang menderita.

d)      Merupakan tindakan kasih kepada keluarga yang menderita.

e)       Meringankan keluarga dari ketegangan finansial yang berat.

f)        Meringankan masyarakat dari beban sosial yang besar.

  • Eutanasia Pasif : Dokter dengan sengaja tidak lagi memberikan bantuan pengobatan/perawatan yang secara medis dapat memperpanjang hidup pasien, sehingga pasien tersebut akan meninggal dunia (tindakan mengijinkan kematian). Misalnya: dengan cara mencabut alat bantu pernapasan (selang respiratos), penghentian pemberian makanan dan cairan. Dapat juga dikategorikan dalam eutanasia pasif, jika pasien secara sadar menolak dengan tegas untuk menerima pengobatan / perawatan secara medis.

Sampai saat ini, di Indonesia, pelaksanaan eutanasia aktif belum pernah ada laporannya, namun yang sering terjadi adalah pasien atau pihak keluarga yang meminta untuk dihentikan perawatan (pasien dibawa pulang ke rumah).

Eutanasia Menurut Sudut Pandang Kedokteran

            Eutanasia menimbulkan suatu paradoks di dalam kode etik kedokteran karena menimbulkan kontradiksi di dalam sumpah Hipokrates, yang menjadi pegangan etik kedokteran. Satu sisi sang dokter harus berupaya untuk meringankan penderitaan pasien, di sisi yang lain dia juga harus memperpanjang serta melindungi kehidupan sang pasien. Hal ini menjadi sebuah dilema yang dialamai para dokter dalam menjalani profesinya, khususnya untuk pasien yang berada dalam keadaan koma yang berkepanjangan.

Menanggapi hal ini, Dr. Sugianto, Sp.S, M.Kes.Ph.D, direktur RS. Bethesda Yogyakarta berkata,

“Biasanya kalau sudah cukup lama, keluarga minta supaya pasien dibawa pulang. Kami sebagai dokter akan menjelaskan konsekuensi apa yang akan terjadi kalau peralatan bantu tersebut dilepas. Dan biasanya keluarga maklum…Ada memang keluarga yang tahu dan minta pulang. Tetapi mereka harus menandatangani surat bahwa apapun konsekuensinya akan mereka terima.”[6]

Dalam bukunya “Hukum Medik”[7], J. Guwandi, menggolongkan eutanasia ke dalam malpraktek kedokteran yang dilakukan dengan sengaja. Lebih lanjut lagi, J. Guwandi menjelaskan bahwa:

“pada malpraktek (dalam arti sempit) tindakannya dilakukan secara sadar, dan tujuan dari tindakannya memang sudah terarah kepada akibat yang hendak ditimbulkan atau tidak peduli terhadap akibatnya, walaupun ia mengetahui atau seharusnya mengetahui bahwa tindakannya itu adalah bertentangan dengan hukum yang berlaku…”

Berikut ini, ada beberapa pandangan para tokoh yang bergelut di bidang medis menanggapi permohonan eutanasia.

  • Dr. Budi Sampurno – ahli forensik dan eutanasia[8]

“Euthanasia dilakukan dengan memperhatikan beberapa kriteria, diantaranya adalah kondisi pasien pada fase terminal atau fase akhir penyakit sehingga tidak mungkin diobati, pasien mengalami penderitaan atau kesakitan yang hebat, dan ada permintaan dari pasien ataupun keluarganya. Jika alasan tersebut tidak ada, maka tidak dapat dilakukan euthanasia.”

  • Dr. Broto Wasisto –  Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) [9]

“Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tidak menyetujui euthanasia aktif. Pasalnya hal itu tidak sesuai dengan etika, moral, agama, budaya, serta peraturan perundang-undangan yang ada. Secara etika, tugas dokter adalah memelihara dan memperbaiki kehidupan seseorang, bukan mencabut nyawa atau menghentikan hidup seseorang. Secara umum negara-negara di dunia tidak menyetujui euthanasia aktif. Dari 200 negara yang tergabung dalam Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hanya ada dua negara yang menyetujui euthanasia, yaitu Belgia dan Belanda.”

Eutanasia Menurut Sudut Pandang Hukum

            Status hukum eutanasia berbeda-beda di setiap negara[10].

  1. Amerika Serikat menganggap sebagai tindakan kejahatan. Bila pasien yang melakukan dianggap tindakan bunuh diri. Orang lain yang membantu melakukan eutanasia dituduh sebagai pembunuh.
  2. Hukum pidana Swiss dan Jerman yang baru tidak menganggap eutanasia sebagai pembunuhan manusia.
  3. Hukum Norwegia menganggap eutanasia sebagai tindak kejahatan khusus, yang hukumnya ditetapkan berdasarkan pertimbangan sendiri.
  4. Undang-undang Uruguay membebaskan pelaku eutanasia sepenuhnya.

Dalam pandangan hukum, menurut Anna Subiakti, SH.[11] Eutanasia dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau perbuatan untuk mematikan atau membawa seseorang kepada kematian diarenakan kondisi penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau sesuatu yang sangat menyakitkan dirinya. Eutanasia digolongkan sebagai “pembunuhan” tingkat dua (pembunuhan yang tidak direncakan), atau perbuatan kriminal berupa pembunuhan karena kelalaian atau alpa.

Sebenarnya di Indonesia, sampai saat ini belum memiliki hukum yang jelas, yang mengatur tentang eutanasia – apakah boleh atau tidak dilakukan. Namun, dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana[12] terdapat satu pasal yang ada kaitannya dengan eutanasia, dalam hal ini eutanasia aktif, yaitu:

Pasal 344 KUHP:

“Barangsiapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang telah dinyatakan dengan kesungguhan hati, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun”.

Di sisi lain, beberapa ahli hukum berpendapat (untuk pasien-pasien yang secara medis tidak mungkin lagi untuk disembuhkan) dengan melakukan perawatan atau tindakan medis yang sama sekali secara medis tidak ada gunanya lagi bagi pasien, secara yuridis dapat dianggap sebagai penganiayaan[13]. KUHP mengenai penganiayaan diatur dalam pasal 351.

 

Eutanasia Menurut Sudut Pandang Agama Islam[14]

Eutanasia dalam bahasa Arabnya dikenal dengan istilah Qatlu ar-rahma atau Tafsir al-maut.

Menurut Shiddiq al-Jawi, Islam tidak membenarkan tindakan eutanasia aktif, bahkan diharamkan. Walaupun niatnya itu baik untuk meringankan penderitaan pasien, namun hukumnya tetap haram, tidak peduli ada permintaan sendiri pasien atau keluarganya. Dali-dalinya sudah sangat jelas. Seperti pada surat An-Nisaa ayat 92, “…dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena bersalah (tidak sengaja)…” Selain itu dalam Surat Al-An’aam ayat 51 disebutkan “…dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (untuk membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.”

Oleh sebab itu dokter yang melakukan eutanasia aktif, menurut hukum pidana Islam, dapat dijatuhi hukuman pidana qishash (hukuman mati karena membunuh).

Bagaimana dengan eutanasia pasif? Menurut hukum Islam, jawabannya tergantung kepada pengetahuan kita tentang hukum berobat itu sendiri. Yakni apakah berobat itu wajib, mandub, mubah atau maruh. Dalam masalah ini masih ada perbedaan pendapat.

Sebab-sebab dan Akibat Dari Eutanasia

  • Sebab-sebab Eutanasia

A.1.  Teknologi medis yang telah mengaburkan garis batas antara kematian dan hidup[15].

A.2.  Rasa belas kasihan dari keluarga atas penderitaan yang dialami sang pasien.

A.3.  Rasa belas kasihan dari pasien atas keluarganya.

A.4.  Pasien yang sudah tidak sanggup lagi menanggung penderitaannya.

A.5. Mahalnya biaya perawatan (contoh: biaya perawatan setiap harinya sekitar 1,2 – 2,5 juta untuk membiayai obat).

  • Akibat-akibat Eutanasia

B.1.  Dokter yang melakukan eutanasia aktif bisa saja dituntut secara hukum (KUHP pasal 344).

B.2.  Pasien akan terbebas dari penderitaan yang dialami (pro eutanasia)

B.3.  Menghasilkan rasa bersalah di dalam keluarga.

B.4. Dari segi agama manapun, baik dari pihak keluarga yang menyetujui maupun dokter yang melakukan dianggap telah berbuat dosa karena telah membunuh.

Bagaimana sikap kita sebagai orang percaya menanggapi hal ini? silahkan baca artikel selanjutnya Klik di sini


[1] Dorothy I. Marx, Itu’kan Boleh (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1995), hal 81

[2] Debdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia – edisi III, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), hal 272

[3] Ensiklopedia Nasional Indonesia Jilid V, (Jakarta: PT. Delta Pamungkas, 2004), Hal 226.

[4] Dr. J.L. Ch. Abineno, Sekitar Etika dan Soal-soal Etis, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), hal 91.

[5] Norman L. Geisler, Etika Kristen – Pilihan dan Isu, (Malang: SAAT, 2001 – Cet. Ke-2), hal.199.

[6] Dr. Sugianto, “Saya Menolak Eutanasia”, Tabloit Mingguan Gloria, Minggu IV Febuari 2005, hal 5.

[7] J. Guwandi, Hukum Medik, (Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2004), hal 21.

[8] Artikel: “eutanasia tak dapat dilakukan di Indonesia” – Tempo Interaktif, 22-11-2004, oleh Muhamad Fasabeni

[9] Artikel: “IDI Tidak Setuju Euthanasia” – Glorianet

[10] Ensiklopedia Nasional Indonesia Jilid V, (Jakarta: PT. Delta Pamungkas, 2004), Hal 226.

[11] Anna Subiakti, “Semua Lembaga Harus Sepakat”, Tabloit Mingguan Gloria, Minggu IV Febuari 2005, hal 5.

[12] R. Soenarto Soerodibroto, KUHP dan KUHAP – Dilengkapi Yurisprudensi Mahkamah Agung dan Hoge Raad, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003), hal 210.

[13] Artikel: “Pro dan Kontra Eutanasia” – Waspada Online, 23-02-2005, oleh Pirma Siburian.

[14] Artikel: “Islam Menghargai Kehidupan”, oleh H. Shiddiq al-Jawi, 26-11-2004, sumber:internet

[15] John Rogers, Etika Medis: Suatu Perspektif Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), hal 45.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: