Jangan Berpikir Rumit

Jangan berpikir terlalu rumit dalam menghadapi masalah apapun karena mudah melukai tidak hanya perasaan orang lain tetapi juga diri sendiri. @Anonim@

Kejadian 50:20 “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekanya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara suatu bangsa yang besar.”

Ketika Yusuf menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya, maka mereka berpikir terlalu rumit, sehingga didalam kedengkian mereka merencana-kan untuk membunuh Yusuf.

Selama ini mungkin pikiran kita terlalu rumit baik terhadap pasangan, keluarga, sahabat, maupun orang lain.

Bahkan, mungkin pikiran kita selalu negative thingking dan penuh dengan curiga, tanpa sadar pikiran rumit tersebut membuat diri kita terluka.

Jadi kita tidak hanya melukai perasaan orang yang kita curigai saja, melainkan diri sendiri kita juga akan mengalami hal yang sama, bahkan bisa lebih parah.

1-Petrus 2:1 Karena itu buangkah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah.

Mulai pagi ini mari kita belajar seperti Yusuf, dikala kita dicurigai jangan marah atau tersinggung, melainkan ubahlah pikiran negative kita menjadi positive.

Percayalah, apapun yang kelihatan buruk, Tuhan pasti sanggup untuk mengubahkannya menjadi baik bagi kita.

Jadi, jangan lagi ada pikiran “RUMIT” dalam hidup kita ini, penuhilah hidup ini dengan damai sejahtera dan sukacita yang dari pada Tuhan.

Selamat pagi, selamat beraktifitas di hari yang pertama minggu ini. Tetaplah semangat! Tuhan pasti beserta dengan kita.

Posted from WordPress for BlackBerry.

BERSAMA YESUS (Matius 12: 30)

Banyak orang Kristen melayani Tuhan tetapi “tidak bersama” Yesus. Bukankah kita dapat melayani Tuhan tanpa Tuhan? Orang Kristen yang melayani tidak bersama Yesus adalah orang Kristen yang melawan Tuhan (Mat. 12: 30). Kata kunci di dalam ayat ini adalah “BERSAMA AKU.”

“Bersama” berarti menyatu, bersekutu, melekat, dan senantiasa dekat atau mengikuti Dia. Ini berarti tidak melayani menurut cara, pengertian, nilai, atau kemauan sendiri (Hak. 17:6; 21: 25; Ams. 3: 5). Dengan demikian kita memiliki keintiman dan kedekatan khusus dengan Yesus. “Bersama” berarti mengenal secara dekat sehingga mengerti dan memiliki pikiran dan perasaan Kristus, dan mengenali suara dan rencana-Nya. Dengan demikian “bersama” membuat kita menjadi satu roh dengan Dia (1 Kor. 6: 17). Ini berarti mengikatkan diri dengan Kristus. Jadi kita menjadi “tawanan Roh” (Kis. 20: 22); kita tidak lagi bebas menentukan kemauan kita. Kita sangat bergantung dan tergantung kepada Yesus.

“Aku” adalah Yesus, bukan “aku” (ego). Jadi, pelayanan kita bukanlah untuk memperlihatkan siapa kita atau apa yang dapat kita lakukan, tetapi untuk memperlihatkan siapa Kristus dan apa yang dapat Dia kerjakan yang tidak mungkin kita kerjakan. Ini berarti pelayanan kita harus berpusat kepada Kristus, bukan berpusat kepada program, manajemen, kreativitas, dan pengalaman. Apabila kita memusatkan pelayanan kepada Kristus, sehingga Ia berada di tengah-tengah kita, maka kita membawa pengharapan kemuliaan di tengah-tengah komunitas kita (Kol. 1: 27-29). Selain itu, lambat laun kita akan menjadi serupa dengan Kristus karena terus menerus terfokus kepada-Nya.
Apakah anda hidup, bekerja, dan melayani bersama Yesus?

-Ps. Leonardo A.Sjiamsuri-

“KEMATANGAN” VERSUS “KETAJAMAN” (1 Raja-raja 13: 1-32)

Setiap orang Kristen yang mau melayani Tuhan harus memperhatikan “kematangan” hidupnya, bukan hanya sekedar “tajam dan peka” serta “perkasa”  dalam melayani Tuhan.
“Abdi Allah dari Yehuda,” yang tidak disebutkan namanya, bertindak atas perintah Tuhan (ay. 1-2). Jadi ia bukan hanya peka dalam mendengarkan suara-Nya, tetapi juga taat sehingga perkataannya genap (ay. 3-4). Sekalipun demikian, hal itu tidaklah menjamin bahwa ia mengakhiri hidupnya atau tugasnya atau pertandingan dengan baik (ay. 23-25). Ingat, bagaimana mengakhiri pelayanan dan hidup ini lebih menentukan daripada bagaimana mengawalinya (2 Tim. 4: 7-8).

Seorang yang melayani karena perintah Tuhan dan menaatinya serta bergerak di dalam dinamika Roh, pasti akan menghasilkan perkara ajaib di dalam pelayanan (ay. 3-5). Namun demikian, hal itu bukanlah ukuran kematangan seseorang. Kematangan seseorang akan menentukan cara pandang dan diagnosa yang benar. Abdi Allah ini hanya memperhatikan faktor “senioritas dan posisi” sebagai seorang nabi (ay. 18). Belum matangnya abdi Allah ini dalam kehidupan membuat ia tidak dapat membedakan roh yang berbicara dalam diri seseorang.

Jadilah seorang hamba Tuhan yang tajam dan matang! Rasul Paulus menasihati Timotius agar tidak hanya tajam dalam karunia dan kuasa (1 Tim. 4: 14), tetapi juga matang sebagai seorang pelayan Tuhan. Hal itulah yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri dan semua orang yang mendengarkan pengajarannya (ay. 16).

Apakah anda memiliki ketajaman (kepekaan) dan sekaligus matang dalam Dia?

-Ps.Leonardo A.Sjiamsuri-

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,178 other followers